Merangkul Santri Lewat Kopi dan Ternak, Cara Humanis Densus 88 di Boyolali

Boyolali, KabarTerkiniNews.co.id – Suasana di Pondok Pesantren (Ponpes) Darusy Syahadah, Kecamatan Simo, tampak berbeda awal pekan ini. Tidak ada jarak antara aparat kepolisian dan lingkungan pesantren. Sebaliknya, yang terlihat adalah antusiasme para santri dan asatidz mempelajari teknik meracik kopi hingga budidaya ternak.

Pemandangan ini menjadi wajah baru dalam pendekatan keamanan yang dilakukan Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror Polri. Melalui Satgaswil Jawa Tengah, mereka menggelar kegiatan bertajuk “Seminar dan Peningkatan Kemampuan Menuju Ponpes Darusy Syahadah Berkelanjutan” yang berlangsung hingga Kamis(5/2).

Kasatgaswil Jateng Densus 88 Polri, Kombes Pol Khoirul Anam, menegaskan bahwa kehadiran negara di tengah pesantren bukan sekadar soal keamanan, melainkan pemberdayaan.

“Tujuannya membekali para santri ataupun pondok pesantren dengan kemandirian. Jadi, bekal mereka bukan hanya ilmu agama saja, tapi juga keahlian (skill) nyata,” ujar Khoirul Anam di sela kegiatan, Senin (2/2).

Menggandeng Kementerian Pertanian dan Forkopimda, materi yang diberikan sangat relevan dengan tren wirausaha kekinian. Mulai dari pelatihan penanaman dan pengolahan kopi (barista), pelatihan pangkas rambut (barbershop), hingga manajemen peternakan susu kambing.

Khoirul Anam menambahkan, kegiatan ini merupakan bentuk soft approach (pendekatan lunak) yang berkelanjutan. Tujuannya menciptakan lingkungan yang resisten terhadap intoleransi dan radikalisme, sekaligus merangkul eks narapidana terorisme (napiter) untuk kembali produktif di tengah masyarakat.

“Harapannya, selain paham agama, mereka bisa mandiri secara ekonomi. Ini cara kami menunjukkan bahwa mereka bisa diterima kembali dan hidup normal,” imbuhnya.

Suntikan Semangat untuk Ekonomi Pesantren Gayung bersambut, Pimpinan Ponpes Darusy Syahadah, Ustadz Qosdi Ridwanullah, mengapresiasi langkah jemput bola ini. Menurutnya, pelatihan ini menjadi solusi konkret bagi yayasan yang tengah berjuang menguatkan kaki-kaki ekonominya.

“Respons kami sangat positif. Bukan hanya pimpinan, guru dan santri sangat antusias. Bahkan guru yang tadinya belum paham teknis pertanian, sekarang jadi semangat ingin praktik,” ungkap Ustadz Qosdi.

Kemandirian ekonomi memang menjadi harga mati bagi Ponpes Darusy Syahadah. Ustadz Qosdi membeberkan, saat ini pondok menanggung beban sosial yang cukup besar. Ada lebih dari 300 anak asuh, yang terdiri dari yatim dan kaum dhuafa, yang biaya hidup dan pendidikannya ditanggung penuh oleh pondok.

“Biaya operasional kami mencapai Rp150 juta per bulan untuk anak-anak asuh ini. Maka, unit usaha seperti penerbitan, toko bangunan, hingga peternakan kambing yang sudah ada, harus terus dikembangkan sebagai backup finansial,” jelasnya.

Dengan adanya pelatihan teknis dari para ahli ini, diharapkan unit-unit usaha milik pesantren bisa berkembang lebih pesat. Ponpes Darusy Syahadah pun digadang-gadang menjadi pilot project percontohan bagaimana pesantren bisa mandiri secara ekonomi sekaligus menjadi garda terdepan merawat kebhinekaan di Jawa Tengah.

Taufik Irvani

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *